Sempat Curi Perhatian, Inilah Sosok Orator Perempuan Saat Aksi Tolak UU Cipta Kerja di Sumenep

Arisya Dinda Nurmala Putri, sosok perempuan yang menjadi orator, saat aksi tolak UU Cipta Kerja di depan DPRD Sumenep. (Foto: Istimewa)

Arisya Dinda Nurmala Putri, sosok perempuan yang menjadi orator, saat aksi tolak UU Cipta Kerja di depan DPRD Sumenep. (Foto: Istimewa)

SUMENEP, (News Indonesia) — Aksi gabungan antara PMII dan GMNI Cabang Sumenep di depan Gedung DPRD pada Senin (12/10) kemarin tak lepas dari peran seorang orator perempuan yang sempat mencuri perhatian.

Dia adalah Arisya Dinda Nurmala Putri, gadis kelahiran Desa Talang, Kecamatan Saronggi, 3 Maret 2000 yang saat ini tengah duduk di semester 5 Fakultas Tehnik Universitas Wiraraja Sumenep sekaligus pengurus Kopri PMII setempat.

Dinda akrab disapa mengaku miris dengan ditetapkannya RUU Cipta Kerja menjadi UU oleh DPR RI pada Senin (5/10) malam lalu, saat sidang paripurna di Senayan, Jakarta.

Ia menilai, para wakil rakyat telah berselingkuh dengan para mafia untuk kepentingan investor yang akan semakin menggerogoti lahan rakyat.

“Sebagai salah satu anak yang lahir dan hidup di desa yang jelas saya tidak terima. Sebab, nasib rakyat terutama kaum buruh dan petani akan semakin sengsara nanti,” katanya saat diwawancara sejumlah media, Selasa (13/10/2020).

Kata Dinda, dirinya tidak pernah takut apalagi minder harus berhadapan dengan aparat keamanan saat aksi. Sebab, baginya turun jalan adalah cara terbaik dalam menyampaikan aspirasi jika semua langkah berada pada jalur kebuntuan.

“Saya sudah sering ikut aksi, bahkan terhitung sudah beberapa aksi. Jadi, saya gak pernah takut dengan apapun, meskipun kadang harus mendapat perlakuan kasar,” ceritanya.

Meski demonstran perempuan kerap diidentikkan dengan sebutan negatif, Dinda mengaku tidak akan surut apalagi pasrah dengan keadaan.

Ia dengan tegas mengaku akan tetap berjuang meski perselingkuhan antar pemangku kebijakan kerap dipertontonkan oleh pembuat kebijakan.

“Beberapa opini dan tulisan yang menyebabkan persekusi terhadap demonstran perempuan memang kerap ditemui. Namun hal itu tidak akan menyurutkan niat saya,” tegasnya.

Bagi Dinda, stereotipe perempuan hanya di kasur, dapur dan sumur tidak berlaku. Sebab, hakikatnya perempuan juga bisa menempati berbagai posisi strategis.

“Perempuan punya kursi politik dan sosial, perempuan juga punya fungsi untuk mengembangkan dirinya baik itu dari segi ekonomi atau yang lain,” lantangnya tegas.

Terakhir pesan Dinda, bagi seluruh perempuan khususnya pemuda, mahasiswa hingga emak-emak harus selalu satu tekad satu suara dan satu tujuan dalam mewujudkan kemaslahatan di negeri zamrud khatulistiwa.

“Kepada seluruh sahabat, kawan dan semua kaum perempuan, tunjukkan bahwa kita patut dihargai, harus tampil berani, harus menjadi diri sendiri. Kalian sudah punya ruang untuk ber-aspirasi dan bergerak,” tutup gadis yang lama menetap di Kota Gerbang Salam. (*)

Loading...

Comment