ACEH, (News Indonesia) – Pimpinan Dayah Babur Ridha di Kota Lhokseumawe, Muhammad Husaini, S.Sos., yang dikenal sebagai Abiya Zulfakar, menyampaikan keprihatinannya terhadap dinamika di media sosial, khususnya terkait hujatan terhadap ulama oleh sebagian pihak.
Dalam keterangannya, Abiya Zulfakar menyoroti adanya pihak yang mengatasnamakan semangat perjuangan Aceh, namun dinilai terjebak dalam sikap menyerang ulama di ruang digital. Ia menilai, pengalaman masa konflik seharusnya melahirkan kedewasaan dalam bersikap, bukan sebaliknya.
“Sebagai orang yang pernah merasakan langsung masa konflik, saya memahami luka sejarah dan sensitivitas persoalan ini. Namun, pengalaman itu seharusnya mengajarkan ketenangan dan kehati-hatian, bukan respons emosional,” ujarnya.
Abiya Zulfakar yang juga diketahui pernah menjadi bagian dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menegaskan bahwa ulama memiliki tanggung jawab menyampaikan pandangan keagamaan berdasarkan Al-Qur’an, hadis, serta pendapat para ulama.
Menurutnya, penjelasan hukum syariat tidak seharusnya ditafsirkan sebagai serangan terhadap sejarah perjuangan atau kelompok tertentu.
“Menghormati sejarah perjuangan adalah satu hal, sementara menjelaskan hukum agama adalah hal lain. Mencampuradukkan keduanya hanya akan memperkeruh keadaan,” katanya.
Ia juga mengingatkan para mantan kombatan dan simpatisan agar tidak mudah terpengaruh provokasi di media sosial yang berpotensi memicu hujatan, fitnah, dan pernyataan yang melampaui batas.
“Orang yang pernah melewati masa konflik semestinya lebih bijak. Tidak perlu menambah persoalan dengan lisan dan tulisan yang menyerang ahli ilmu,” tegasnya.
Lebih lanjut, Abiya Zulfakar menilai bahwa merendahkan ulama dapat berdampak negatif, baik secara sosial maupun dalam perspektif keagamaan.
Ia mengajak masyarakat untuk menjaga etika dalam menyikapi perbedaan pandangan serta tidak kehilangan nilai akhlak.
“Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai kehilangan adab. Jangan sampai sejarah perjuangan yang penuh pengorbanan justru tercoreng oleh perilaku yang tidak bijak,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, ia mengimbau masyarakat yang telah terlanjur menyampaikan ujaran yang tidak pantas di media sosial untuk melakukan introspeksi diri.
“Jika sudah terlanjur, sebaiknya segera memperbaiki diri, menjaga lisan, dan tidak segan untuk meminta maaf. Setiap orang bisa melakukan kesalahan, namun yang terpenting adalah kemauan untuk memperbaikinya,” pungkasnya.
Comment