Aktifis dan Ritus Mahalnya

Oleh: Ongki Arista UA

Aktifis harus kembali ke kampung. Bergubuk (baca; berkantor) di kampung. Mengenyam pendidikan kampung. Belajar sikap pada orang-orang kampung dan yang terakhir, harus bersahaja, jujur dan sederhana seperti orang kampung, tapi tidak boleh kampungan.

Realitas keaktifisan kini bergeser ke arah yang lebih elit, ke arah kota—andai saja elit dengan sedikit arif, sayangnya tidak. Nongkrong di berbagai kafe dengan biaya ngopi yang tidak murah, snack dan jajan yang juga tidak murah.

Berpenampilan dengan baju bermerk, handphone bermerk, tak lupa, paket data yang terbilang mahal.

Realitas tersebut terbilang elit dibandingkan dengan kondisi aktifis di era 60-70-an. Aktifis era itu hampir tidak mengenal beragam kemewahan seperti yang dikenyam para aktifis hari ini.

Untuk hadir ke dan biaya kongres organisasi, mereka harus menyisihkan uang rokok dan makannya.

Mereka tidak tergantung pada hasil proposal organisasi dan dana bantuan sosial dari pemerintah, karenanya, jika bertanya soal militansi gerakan, idealisme gerakan mahasiswa, aktifis tahun 60-70-an adalah figur terbaik.

Aktifis hari ini tak ada yang benar-benar siap diasingkan, terancam dan melepas kemapanan dirinya—apalagi berani mati. Ber-handphone mahal, sepatu keren, menu makanan yang mewah dan tak lupa perempuan cantik yang dijadikan istri haramnya adalah identitas keaktifisan yang paling kekinian. Tak dapat dipungkiri, inilah sisi mahal pada diri aktifis detik ini.

Jika aktifis era dulu memilih sederhana seperti orang kampung, maka aktifis hari ini memilih mencari biaya hidupnya seperti orang kota. Jika aktifis era dulu memilih melepas nafsu kemewahannya dan memilih lapar demi menjaga idealismenya.

Tapi aktifis hari ini justru kebalikannya; memilih menunaikan nafsu kemewahannya dan memilih kenyang dengan menggadaikan idealismenya.

Tan Malaka menyebut idealisme sebagai kekayaan terakhir seorang aktifis karena ingin mengungkapkan, apabila idealisme hilang, maka hilanglah semuanya, termasuk harga dirinya.

Saat idealisme tergadaikan, maka tergadaikanlah semuanya, termasuk kebenaran di tangannya, dan idealisme yang tergadaikan tak akan pernah bisa ditebus ulang.

Dari mana aktifis kekinian dapat membiayai nafsu kemewahan dirinya itu? Menjadi budak politisi, berafiliasi dengan mafia, berkompromi dengan pihak yang berkepentingan adalah jalan paling mungkin untuk sampai pada kemewahan itu.

Sampai di sini, adakah yang dapat diandalkan dari seorang aktifis yang tunduk pada kemapanan? Yang patuh pada pihak penguasa dhalim? Yang merengek saat butuh makan? Yang berdemo saat butuh paket data? Dengan ini, mereka sejatinya telah belajar korupsi melalui identitasnya.

Bagaimana tidak? Para junior mengharapkan kemaslahatan dan memberi kepercayaan penuh kepada para seniornya, tapi si senior justru mengabaikan kepercayaan itu demi kepentingan perut dan paket data.

Sebaiknya, kantor-kantor para aktifis tidaklah berposisi mewah di kota, tapi lebih baik di kampung-kampung. Di sana, mereka akan belajar hidup sederhana, tak berlomba-lomba mencari kemewahan, tak mudah dirobohkan prinsip-prinsipnya.

Di kampung, menurut Peter Connolly, adalah tempat paling baik menjaga tradisi, prinsip dan idealisme.

Hanya orang kampung yang setiap saat siap mengajak makan orang yang lewat di depan rumahnya secara gratis. Hanya di kampung, orang-orang tidak mengenal gengsi dengan pakaian mereka.

Hanya di kampung, pacaran itu menjadi keburukan. Hanya di kampung, tegur sapa terjalin dengan akrab. Hanya di kampung, silaturrahim terjalin tanpa kepetingan politis dan hanya di kampung, titah politisi tidak ditelan mentah-mentah.

Aktifis yang domisilinya di kota dengan dikelilingi mall, kafe, kantor dinas, kantor parpol, kantor proyek dan diskotik tak jarang membawa karakter diri seorang aktifis tersebut lebih pragmatis dan tentu juga materialistik, hanya saja dipraktikkan secara samar.

Tak dapat dipungkiri, aksi-aksi menjalankan proposal, meminta dana lebih di organisasi intra kampus, mengadakan lomba berbayar, mendatangi pak politisi, menempelkan diri pada senior yang berada di jajaran dewan dan berafiliasi dengan kaum politisi lokal atau interlokal adalah gerak pragmatis paling samar dalam diri aktifis, yang tujuan semua itu, minimal agar aktifitas ngopi di warung dan kafe di sepanjang malam dan siang, ditraktir.

Dimana idealisme dan militansi aktifis yang biaya ngopi dirinya saja harus merengek pada senior dan politisi? Sejak saat itu, idealisme sendiri hilang di warung-warung kopi, hilang di konter-konter tempat pembelian handphone dan paket data, hilang di pasar-pasar tempat membeli baju dan hilang di semak-belukar bersama istri haramnya.

Potret ini menjadi rahasia umum bagi aktifis. Rahasia umum dalam arti sebagian besar aktifis telah melakukan hal-hal yang disebutkan di atas. Mereka kemudian memilih untuk tidak membahas potret buram ini lebih a lot dan menjadikannya sebagai rahasia umum.

Ya, di manapun begitu. Sesama pelaku, tidak akan pernah diantara keduanya berani melaporkan atau membenci salah satunya, justru mereka—sebagai sesama pelaku—saling bercerita hal-hal buram macam di atas yang telah dilakukannya dalam beberapa kesempatan yang semi-terbuka, dan tak jarang, kader mendengar cerita tersebut dan melestarikan budaya keaktifisan yang sedemikian rupa.

Akhirnya—ini yang paling berbahaya—Kebenaran versi aktifis kekinian telah berubah esensinya. Jika dulu, suara kebenaran ialah saat penguasa dhalim harus tumbang dan jika belum, harus tetap ditumbangkan tanpa kompromi, kini kebenaran itu ialah saat para penguasa dhalim l terlihat takut pada si aktivist lalu diperas agar siap mentraktir keperluan hidupnya, dari biaya hidup, kuliah dan biaya kencan bersama pacarnya.

Banyak pemuda yang merasa hebat saat telah bisa hidup mewah dengan cara membegal para atasan, bos, kepala dinas, bupati, dewan dan lain semacamnya, bahkan seniornya sendiri. Dimana idealisme itu? Dimana, dimana dan dimana?
Wahai Aktifis, Istighfar, lalu kembali ke kampung!

Comment