oleh

PT Tanjung Odi Sumenep Tuding Data FKMS Tidak Jelas

SUMENEP, (News Indonesia) — Tudingan aktivis Front Keluarga Mahasiswa Sumenep (FKMS) lewat demostrasi di kantor Dinsos setempat, soal banyaknya karyawan PT. Tanjung Odi yang berhenti akibat gangguan pernafasan dan pelayanan yang tidak optimal dinilai tidak jelas.

Hal itu disampaikan Kasie Personalia General Affair (PGA) & Keuangan, PT. Tanjung Odi, Deddy Ariyadi, menurutnya, sejauh ini belum ada pekerja yang mengeluh akibat sesak nafas dan tidak optimalnya pelayan dari pihak perusahaan.

“Terkait dengan esensi tuntutan FKMS kami belum paham secara utuh, cuma kami dapat pastikan sejak baru berdiri tahun 2012 lalu sampai sekarang belum ada pekerja yang mengeluh demikian, kami sudah bekerja sesuai aturan perundang-undangan,” katanya, kepada sejumlah media, ditemui di kantornya, Kamis (16/1/2020).

Logikanya, lanjut Deddy, perusahaan yang sudah berjalan selama 7 tahun lebih apabila terdapat pelayanan yang tidak sesuai, pasti akan dipanggil oleh pihak pengawas, dalam hal ini adalah Dinas Tenaga Kerja Sumenep.

“Untuk itu, data yang disampaikan FKMS terkait dengan pekerja yang sudah keluar dalam kondisi sakit masih kami pertanyakan, data yang mereka sampaikan ada apa tidak,” ungkapnya.

Semua pekerja kata Deddy, sudah di masukkan ke BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, bahkan pihaknya mengaku tidak pernah mengeluarkan pekerja (karyawan) yang sakit.

“Gaji (upah) pekerja yang sedang sakit tidak pernah kami potong, walaupun kondisi sakitnya sudah lama,” bebernya.

Disinggung soal lemahnya pelayanan sesuai hasil kajian FKMS, Deddy meminta dasar dan bukti secara data dari para aktivis tersebut.

“Sekali lagi data yang diinvestigasi itu siapa, kalau ada karyawan yang sakit sudah kita sediakan pos tertentu mulai dari P3K, dokter, bahkan tempat beristirahat hingga obat juga kita fasilitasi dan itu gratis,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, Koordinator Aksi FKMS, Abd. Mahmud mengatakan, berdasarkan hasil kajian dan investigasi dari berbagai sumber ditemukan adanya sejumlah tenaga kerja yang berhenti dari PT Tanjung Odi beralasan sakit akibat pernafasan.

“Kebanyakan sakit karena alasan pernafasan, dan sampai detik ini belum ada bantuan kepada mereka,” katanya, di hadapan sejumlah media.

Di samping itu, kata Mahmud, sewaktu bekerja juga tidak rutin diberikan masker oleh pihak perusahaan. “Terkecuali hanya, sewaktu-waktu saja, apabila ada pengawas, oleh karena itu kami meminta kepada Disnaker khususnya, untuk menindak lanjuti persoalan tersebut,” sebutnya.

Disinggung soal data pekerja yang keluar karena sakit tersebut, Mahmud mengklaim harus merahasiakan identitas mereka.

“Ya saya secara pribadi dan teman-teman mahasiswa tidak mungkin menyampaikan, siapa orang yang telah kami investigasi, intinya pemerintah di sini sudah tidak bekerja secara optimal,” tandasnya. [kid/faid]

Loading...

Komentar

BERITA TERBARU