PAMEKASAN, (News Indonesia) – Bupati Pamekasan, KH. Kholilurrahman, mengajak masyarakat untuk kembali menggunakan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya menjaga dan melestarikan identitas budaya daerah.
Ajakan tersebut disampaikan Kholilurrahman saat memberikan sambutan dalam acara Malam Kemilau Madura yang digelar di kawasan Monumen Arek Lancor, Senin (2/11/2026) malam. Kegiatan tersebut merupakan puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Pamekasan ke-496.
Di hadapan Menteri Kebudayaan RI, Gubernur Jawa Timur, serta ribuan masyarakat yang hadir, Kholilurrahman menyampaikan keprihatinannya terhadap semakin berkurangnya penggunaan bahasa Madura, khususnya di kalangan generasi muda.
Ia mengungkapkan telah meminta Sekretaris Daerah (Sekda) agar menerapkan satu hari dalam sepekan sebagai momentum penggunaan bahasa Madura di lingkungan pemerintahan.
“Bangsa Madura tidak boleh hilang. Bahkan saya sudah minta kepada Pak Sekda untuk satu hari dalam satu minggu kita berbicara bahasa Madura, karena anak-anak kita sudah banyak yang melupakan bahasa Madura,” ujar Kholilurrahman.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui penggunaan pakaian adat maupun penyelenggaraan pertunjukan kesenian. Bahasa daerah, kata dia, merupakan bagian penting dari identitas dan warisan budaya yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Madura harus tetap maju sebagai bagian dari Indonesia, tapi jangan sampai kehilangan jati dirinya,” tegasnya.
Kholilurrahman juga meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengambil peran dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya lokal kepada peserta didik sejak usia dini.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati turut mengundang seluruh mantan Bupati Pamekasan untuk hadir dan duduk bersama di panggung kehormatan. Kehadiran para mantan kepala daerah itu menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan dan penghargaan terhadap kontribusi para pendahulu dalam membangun Pamekasan.
“Kenapa beliau-beliau saya undang karena rantai yang satu dengan yang lain harus selalu berkaitan dan tidak terlepas. Tidak mungkin ada saya hari ini kecuali ada bupati-bupati sebelum saya. Inilah kepemimpinan yang harus kita pertahankan, yaitu kepemimpinan yang bersifat kebersamaan,” ungkapnya.
Selain menyoroti pelestarian bahasa dan budaya, peringatan Hari Jadi Pamekasan ke-496 juga menampilkan pembatikan kain sepanjang 1.530 meter. Kain batik tersebut membentang dari sisi timur hingga barat Monumen Arek Lancor sebagai bagian dari upaya mengangkat sejarah Pamekasan yang memiliki akar pemerintahan sejak masa Panembahan Ronggosukowati pada 1530 Masehi.
Kholilurrahman mengatakan, Pamekasan yang dikenal sebagai kota batik perlu kembali memperkuat eksistensinya melalui pengembangan sektor kerajinan dan pemberdayaan para pelaku batik lokal.
Ia mengakui, kejayaan batik Pamekasan sempat mengalami penurunan. Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen untuk kembali menghidupkan sektor tersebut.
“Alhamdulillah sampai saat ini kota batik dan kabupaten batik sudah mulai redup. InsyaAllah akan kita hidupkan kembali, akan kita semarakkan kembali. Para insan batik tidak perlu khawatir,” katanya.
Sejumlah Penghargaan Warnai Malam Kemilau Madura
Malam Kemilau Madura juga diisi dengan penyerahan sejumlah penghargaan dan apresiasi kepada Kabupaten Pamekasan.
Di antaranya penyerahan sertifikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Kementerian Kebudayaan RI, sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur, serta informasi dibukanya kembali layanan BPJS Kesehatan.
Selain itu, Pamekasan juga menerima dua penghargaan Wilwatikta Awards 2026 dalam bidang pengentasan kemiskinan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Dalam kegiatan yang sama, Kholilurrahman turut menerima Anugerah Apresiasi Tokoh 2026 sebagai tokoh partisipatif.
Menanggapi berbagai penghargaan tersebut, Kholilurrahman menyampaikan bahwa capaian yang diraih bukan semata-mata hasil kerja bupati dan wakil bupati, melainkan kontribusi seluruh elemen masyarakat dan jajaran pemerintahan.
“Penghargaan ini untuk semuanya. Karena bupati dan wakil bupati tidak akan berarti apabila yang lain diam. Indonesia tidak akan bersinar dengan lampu besar yang hanya jumlahnya dua orang, tapi akan bersinar dengan lilin-lilin kecil yang tersebar di desa dan di masyarakat,” pungkasnya.
Melalui peringatan Hari Jadi ke-496 tersebut, Pemerintah Kabupaten Pamekasan diharapkan dapat terus memperkuat pelestarian bahasa, budaya, dan batik lokal, sekaligus menjaga kesinambungan pembangunan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Comment