Pembukaan Pamnas Bonsai 2026 di Pamekasan Meriah, Jadi Pembuka Hari Jadi ke-496

Foto: Bupati Pamekasan saat menerima Cinderamata dari PPBI Pusat

PAMEKASAN, (News Indonesia) – Pameran Bonsai Nasional (Pamnas) Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) 2026 dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Pamekasan ke-496 resmi dibuka. Mengusung tema “Madura Menantang Para Bintang”, kegiatan tersebut menjadi pembuka rangkaian Hari Jadi Pamekasan sekaligus menjadi penyelenggaraan pertama kelas Bintang di Madura.

Pameran berlangsung pada 28 September hingga 6 Oktober 2026 dan diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Ketua Panitia Pelaksana Pamnas Bonsai 2026, Firdaus Andriansyah, mengatakan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan tersebut mencapai 625 orang. Peserta berasal dari Lamongan, Gresik, Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Bali, Jakarta, Tangerang, Semarang hingga Jawa Barat.

“Untuk kelas yang dilombakan ada Kelas Prospek atau Bahan, Pratama, Madya, Utama dan Kelas Bintang sebagai puncak tertinggi. Kelas Bintang untuk pertama kalinya diadakan di Madura, sehingga mengukir sejarah,” ujarnya.

Firdaus menjelaskan, tema “Madura Menantang Para Bintang” dipilih karena minat masyarakat terhadap bonsai di Pamekasan dinilai terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurutnya, sejumlah pengusaha dan kolektor di Pamekasan juga memiliki ketertarikan terhadap bonsai.

Ia berharap penyelenggaraan Pamnas dapat memberikan dampak terhadap perkembangan UMKM dan ekonomi kreatif, khususnya bagi para pehobi bonsai di Pamekasan.

Sementara itu, Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman mengapresiasi PPBI yang telah menyelenggarakan Pamnas di Pamekasan dan menjadikannya sebagai pembuka rangkaian Hari Jadi Kabupaten Pamekasan ke-496.

“Saya sangat berterima kasih kepada kawan-kawan PPBI yang telah mengadakan pameran nasional bertempat di Pamekasan, apalagi mengambil event Hari Jadi Pamekasan. Jadi pameran bonsai nasional pada hari ini menjadi pembuka terhadap pelaksanaan event Hari Jadi Pamekasan,” kata Bupati.

Terkait dukungan Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Kholilurrahman mengaku belum memberikan bimbingan secara khusus. Namun, dukungan tersebut telah direncanakan dengan mempertimbangkan tingginya antusiasme peserta yang datang dari berbagai daerah.

Bupati juga berharap kegiatan pameran bonsai tingkat nasional dapat menjadi agenda tahunan di Pamekasan.

“Saya berharap kepada PPBI untuk setiap tahun mengadakan pameran bonsai tingkat nasional di Pamekasan, sehingga ikut mendorong kemajuan Pamekasan,” ucapnya.

Ia juga berpesan agar seni bonsai tidak hanya ditekuni secara perorangan, tetapi dapat diajarkan kepada masyarakat, terutama generasi muda, sehingga keterampilan tersebut dapat dikembangkan menjadi peluang penghasilan.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum PPBI Pusat, Nana Suryana, mengungkapkan bahwa PPBI saat ini telah berdiri di 262 kabupaten/kota di Indonesia.

Untuk Pamnas Pamekasan, Nana menyebut jumlah peserta berkisar antara 550 hingga 580 orang yang berasal dari Jawa, Bali, dan Denpasar.

Menurut Nana, keberadaan PPBI tidak hanya menjadi wadah untuk berkarya di bidang seni dan menjalin silaturahmi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah dalam mendorong perekonomian daerah.

Ia menyebut penyelenggaraan Pamnas dapat memberikan dampak terhadap sejumlah sektor usaha, seperti UMKM, rumah makan, dan penginapan.

“Peserta dari luar daerah makan, minum dan tidur di sini. Selain itu banyak pegiat bonsai dari Jawa Barat hingga Madura yang membeli bahan bonsai langsung dari Pamekasan,” jelasnya.

Terkait kriteria penjurian, Nana mengatakan juri PPBI memiliki standar penilaian yang meliputi gerak dasar pohon, keseimbangan, keserasian, keseluruhan penampilan, serta bentuk batang, dahan, cabang, ranting hingga cucu ranting.

Ia menilai perkembangan bonsai di Madura cukup pesat. Menurutnya, terdapat bonsai berkelas dan berkarakter dari empat kabupaten di Madura.

Nana juga menyebut Pamekasan memiliki potensi untuk menjadi tuan rumah kegiatan nasional berikutnya, dengan mempertimbangkan antusiasme kolektor terhadap bonsai.

“Bonsai adalah ekonomi kreatif. Sesuatu benda yang biasa saja, jika ditangani dengan tangan terampil dan imajinasi yang kuat akan bernilai tinggi,” pungkasnya.

Comment