oleh

Mengenal Kyai Mahfud dan Cikal Bakal Pesantren Nurul Huda Banbaru

Oleh: A. Rofik

Namanya Moh. Yahya, beliau lahir pada tahun 1933 di Desa Sumberkolak, Kecamatan Penarukan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, dari pasangan Kyai Sakwan dan Nyai Sam’eya.

Moh. Yahya sudah yatim sejak masa kanak kanak, ditinggal bapaknya di usia 3 (tiga) bulan. Selama di Sumberkolak ia diasuh ibunya bersama Rajiya (pona’an Nyai Sam’eya istri Kyai Sakwan) sebelum akhirnya memutuskan pindah dan berdomisili di pulau Giliraja, Kecamatan Giligenting Sumenep.

Masa remajanya, Moh. Yahya dihabiskan di pulau Giliraja, hingga menemukan tempat berlabuhnya. Ia beristrikan gadis benama Juhairiyah pada tahun 1959. Dari perkawinannya dikaruniai 4 keturunan yaitu Mahfudh (1962), Moh. Sa’id (1965), Ramailah (1970), Abd. Halim Al-A’la (1975).

Selama mengarungi bahtera rumah tangganya, kondisi perekonomian Kyai Moh. Yahya jauh dari kata mewah, untuk menghidupi keluarganya serba serabutan, dari nelayan, petambak garam hingga merantau ia lakoni. Bahkan ia memiliki perahu tangkap ikan (jurung; Madura). Hingga akhirnya ia memantapkan diri untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan atas dauh gurunya.

Saat putra bungsunya, Kyai Abd. Halim Al-A’la (sekarang menjadi ketua Yayasan Pesantren Nurul Huda) sedang kuliah di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton. Kyai Moh. Yahya tutup usia pada tahun 1997 di usianya ke 64 tahun yang sebelumnya jatuh sakit hingga berbulan-bulan.

Siapa Kyai Moh. Yahya?

Kyai Mahfud, demikian masyhur dikenal oleh ribuan santrinya di kepulauan Giliraja, kecamatan Giligenting, Sumenep, Madura. Mulai santri pertama hingga santri milenialnya.

Dikenal Kyai Mahfud karena putra pertamanya diberi nama Mahfudh, seiring berjalannya waktu ‘nama Mahfudh’ dirubah menjadi Abd. Hafidh (sekarang, penerus perjuangannya dan pengasuh Pesantren Nurul Huda).

Sebagian santri tempo dulu memanggilnya Kyai Moh. Yahya Sakwan Hasan.

Kyai Sakwan adalah ayah dari Kyai Moh. Yahya (Mahfudh) yang di kebumikan di Sumberkolak, kecamatan Penarukan, Situbondo. Sementara Kyai Hasan merupakan kakek dari Kyai Moh. Yahya yang di kebumikan di Dusun Nai’an, Desa Gapura Barat, kecamatan Gapura, Sumenep.

Kyai Moh. Yahya (Kyai Mahfud) merupakan salah satu santri pertama alm. KH. Moh. Sirajuddin pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka, Sumenep. Ia juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo di bawah asuhan KH. Zaini Mun’im.

Karena kepribadian Moh. Yahya remaja kala itu yang luhur dan ta’dhim kepada guru. Saat sowan pamitan berhenti nyantri, oleh gurunya, KH. Moh. Sirajuddin disarankan mendirikan lembaga pendidikan (tempat baca tulis, mengaji Alquran serta kitab kuning).

Singkatnya, Kyai Moh. Yahya bersama Kyai Suja’ie (mertua Kyai. Moh.Yahya) Kyai Mulawi dan Kyai Raniya, tepatnya tahun 1960 didirikanlah Nurul Huda di desa Banmaleng, ujung paling barat kepulauan Giliraja (waktu itu belum bernama Nurul Huda, tapi proses pembelajaran berlangsung di mesjid Miftahul Huda). Santrinya berasal dari desa Banmaleng, termasuk desa Banbaru.

Selang beberapa tahun, dakwahnya dianggap kurang strategis akhirnya pada tahun 1964 Nurul Huda pindah ke desa Banbaru, sebuah desa yang berada di tengah-tengah kepulauan Giliraja. Di desa Banbaru inilah kyai Moh. Yahya dibantu Kyai Syamsul saudara iparnya mengembangkan Nurul Huda mulai baca tulis, mengaji Alquran dan kitab kuning di mushalla hingga berbentuk klasikal formal.

Kitab kuning yang diajarkan kepada para santri tempo dulu diantaranya sullamuttaufiq, safinatunnajah, bidayatul hidayah, ilmu tauhid dan ilmu tajwid.

Teladan Kyai Moh. Yahya

Para santrinya mengatakan, Kyai Moh. Yahya, keseharianya adalah isi kitab yang bisa dicontoh. Klaim berlebihan, namun demikian faktanya. Fatwanya menyejukkan, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda bahkan kepada santrinya sekalipun.

Dikisahkan, apabila mengendarai sepeda onthel kemudian melihat anak kecil berjalan kaki, ia turun dan menyapanya. Ditanya kenapa turun, kwatir anak kecil tersebut seorang yatim atau yatim piatu. Saat perpapasan dengan santri-santrinya, ia lebih awal menyapanya penuh hangat dan kekeluargaan.

Upaya mencegah budaya yang kurang adaptif dengan kebiasaan di pulau Giliraja, dipilihnya jalan preventif seperti jemput bola, lihai dan penuh hati-hati. Merangkul tokoh-tokoh kunci di kepulauan Giliraja. KH. Abdurrahman dari desa Lombang dan H. Jailani, H. Sumoto, Bapak Matlazim dari desa Banbaru.

Mereka menjadi ketua persatuan parloh (kegiatan selamatan pernikahan dan sejenisnya), dari kegiatan inilah Kyai Moh. Yahya mengarahkan kepada para tokoh kunci untuk setiap pelaksanaan selamatan agar mendatangkan penceramah sebagai alternatif ngalap barokah. Subhanallah, berhasil kala itu.

Sementara dalam berdakwah kepada masyarakat, inisiatif brilian dari Kyai Moh. Yahya bersama H. Imam Sutikno, Bapak Sumuto dan KH. Ahyar mendirikan majlis ta’lim al-khairot yang anggotanya terdiri dari empat desa di kepulauan Giliraja (Desa Lombang, Banbaru, Jate dan Banmaleng).

Media ‘majlis ta’lim‘ yang diisi pengajian kitab klasik dan memecahkan persoalan etika, fiqh dan aqidah ahlussunah waljamaah An-nahdliyah sampai sekarang masih berlangsung di bawah asuhan Kyai Abd. Hafidh putra sulung kyai Moh. Yahya.

Karya besar sebagai peninggalan Kyai Moh. Yahya adalah Pesantren Nurul Huda dan majlis ta’lim al-khairot yang harus dijaga dan dilanjutan oleh masyarakat kepulauan Giliraja, khususnya para santrinya.

*Penulis: santri MTs. Nurul Huda Banbaru, alumni tahun 98

Komentar

BERITA TERBARU