JAKARTA, (News Indonesia) – Di tengah kesibukan kedua orang tuanya sebagai pegiat kemanusiaan, Raden Ayu Aulia Yasmien Werdisastro tumbuh menjadi remaja putri yang mandiri, berprestasi, dan memiliki semangat belajar tinggi.
Lahir dari keluarga aktivis, Yasmien menjadi contoh bagaimana lingkungan penuh nilai positif dapat membentuk karakter tangguh dan visioner. Ayahnya, M. Firman Hidayat Werdisastro, dikenal sebagai aktivis ’98 yang fokus pada isu-isu sosial. Sementara ibunya, Jeny Claudya Lumowa, menjabat sebagai Ketua Nasional Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak (TRCPA).
Meski kedua orang tuanya kerap bertugas dalam misi perlindungan anak di berbagai daerah, Yasmien mengaku tetap mendapat perhatian dan kasih sayang. Lingkungan keluarga yang menjunjung prinsip anti-kekerasan, pola asuh positif, serta teladan dari kakek dan neneknya pendiri Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sekaligus pembina Komnas Perlindungan Anak membentuk kepribadiannya sejak dini.
Perjalanan Yasmien mulai dikenal publik ketika pada usia 6 tahun ia dipercaya menjadi ikon program Polisi Cinta Anak pada 2011. Sejak itu, berbagai prestasi terus diraihnya.
“Saya hanya ingin menunjukkan kepada anak-anak Indonesia untuk tidak manja, terus belajar, dan mengembangkan bakat. Jangan malas,” ujar Yasmien ketika ditemui.
Selain aktif dalam kegiatan sosial, Yasmien juga menonjol di bidang olahraga basket dan seni tata boga. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat ia terpilih menjadi asisten juru masak di salah satu hotel milik perwira tinggi Polri di kawasan Dharmawangsa, Surabaya, kesempatan yang jarang diraih oleh remaja seusianya.
Kisah Yasmien menunjukkan bahwa dukungan keluarga, pola asuh yang tepat, serta kemauan belajar dapat membuka peluang untuk meraih prestasi. Ia berharap perjalanan yang ia mulai sejak kecil dapat menginspirasi anak-anak Indonesia untuk berani bermimpi dan berusaha mewujudkannya.
Comment