oleh

Potret ‘Bherung Salera’ Wisata Kuliner Khas Desa di Sumenep

SUMENEP, (News Indonesia) — Bherung Salera sebuah sebutan yang mungkin asing di telinga, namun siapa sangka wisata kuliner khas desa ini mampu meraup keuntungan puluhan juta. Serta menjadi primadona di masyarakat ujung timur Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Lahir di tengah menjamurnya bisnis kuliner, tak membuat pria ini minder, pasalnya berawal dari coba-coba sekedar menyalurkan hobi sang istri. Pria ini akhirnya mampu menyulap lahan milik keluarganya menjadi satu destinasi wisata kuliner yang menjanjikan. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir sudah bisa meraup omset 20 juta perbulan.

Dia adalah Hosnan Nasir (40) warga Desa Bicabi, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, seorang pria dengan ide sederhana berniat mencoba usaha rumahan.

“Berawal dari hobi memasak istri, lahirlah inisiatif mencoba usaha rumahan, ternyata bernilai jutaan,” ujarnya saat ditemui oleh media ini. Senin (23/3/2020).

Usaha yang dirintis sejak 2018 lalu menurutnya hanyalah sebatas menyalurkan ide dan gagasannya sang istri, namun siapa sangka bisa merangkak naik, bahkan banyak dikunjungi wisatawan.

“Tahun 2018 lalu berdiri, 2019 dipindah ke sebelah rumah ini, Alhamdulillah banyak yang minat, bahkan wisatawan dari berbagai daerah,” tuturnya bercerita sembari menunjuk arah.

Sebelum pindah kata dia, warung yang dibuat dengan berbagai macam bambu dan ilalang sebagai atap itu, diberi nama ‘Bherung Salerana’.

“Diambil dari bahasa Madura dari kata Bherung yang memiliki arti warung dan Salerana yang berarti selera, jadi sangat Maduraisme sekali bukan,” lanjutnya bercerita.

Tahun 2020, saat ISNU Dungek menggelar acara bersama penyuluh KPK RI.

Kata mantan aktivis Pamekasan ini, diawal berdiri warung itu hanya menyajikan ragam minuman sejenis kopi. Namun siapa sangka banyak kalangan muda yang datang dan nongkrong di warung itu.

“Tidak hanya sekedar ngopi, mereka juga diskusi banyak, hal entah apa yang dibahas,” imbuhnya.

Aneka Menu yang Disajikan

Awal tahun 2019 nama Bherung Salerana sudah berubah menjadi Bherung Salera, hal itu bukan tanpa alasan, mengingat dalam kurun waktu setahun warung tersebut sudah akrab di telinga masyarakat Kecamatan Dungkek.

“Bherung Salera artinya adalah warung yang sudah kental dengan rasa baik minuman maupun masakannya,” kata Sri Wahyuni (32) yang tak lain adalah istri dari Hosnan Nasir.

Kata wanita yang akrab disapa Yayuk ini, seiring berjalannya waktu untuk mengembangkan usaha kuliner, pihaknya mencoba kerja sama dengan salah satu Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

“Kerjasama dengan Bumdes Pangesto Bicabi mas,” jelasnya.

Sejak saat itu, kata Yayuk Bherung Salera sudah menyajikan beragam menu masakan. Untuk olahan masakan sendiri terdiri dari soto babat, Kaldu, ayam geprek, lalapan goreng, nasi bakar dan nasi campur. Sementara ragam minumnan terdiri dari es cappucino, milo, susu soda, mega mendung, es jeruk, es teh, dan aneka ragam kopi.

“Sejauh ini yang paling diminati masyarakat adalah ayam geprek, dan nasi bakar,” katanya.

Yayuk ingin usaha yang dirintisnya juga dapat mendongkrak perekonomian di Desa, untuk itu pihaknya tidak mematok harga tinggi.

“Harga masakan aneka soto 6 ribu, ayam geprek, lalapan dan nasi campur 10 ribu, minuman mulai dari 3 ribu sampai 10 ribu,” jelasnya merinci.

Ketua Bumdes Pangesto Bicabbi

Berdasarkan kesepakatan perjanjian yang termaktub dalam akta bersama pihak pengelola dengan pengurus Bumdes, terhitung sejak tahun 2019 ‘Bherung Salera’ sudah menjalin kerjasama dengan Bumdes.

“Dengan pola sistem bagi hasil 50 – 50 mas,” Kata Ketua Bumdes Pangesto Bicabi Muhammad Rasyidi (26). Selasa (24/3/2020).

Kata dia, dengan sistem kerjasama yang baik maka Bherung Salera akan semakin maksimal. Sehingga, tidak menutup kemungkinan akan bisa membuat siklus ekonomi di Desa setempat mengalami kenaikan yang signifikan.

“Kita juga sudah proses pengembangan olahan rumput laut (Tajin Bulung) karena itu bagian potensi masyarakat yang ada di desa ini,” ujarnya.

Termasuk, pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan sejumlah pihak untuk uji eksperimen pembuatan es krim dan dodol dari pohon siwalan (la’ang) di musim kemarau.

“Kita sudah eksperimen untuk itu, cuma ada sedikit kendala mas, kan musiman, sehingga perlu untuk tekstur dan cita rasanya dikembangkan lagi,” sebutnya.

Di samping itu, lanjut mantan aktivis Jogja ini, terdapat program kerjasama dalam meminimalisir pengangguran. Sehingga, pihaknya juga mempekerjakan 4 orang sebagai pramusaji dengan gaji 500 ribu perbulan.

“Jadi ada 4 orang yang kita pekerjakan di sini,” lanjutnya.

Ditanya soal omset, menurutnya masih fluktuatif, namun di waktu tertentu bisa mencapai 20 juta dalam sebulan.

Untuk omset sebenarnya masih fluktuatif, misal padat pesanan acara bisa mencapai 2 sampai dengan 3 juta perhari. “Total normal bulan apa ya, lupa pernah mencapai mencapai 20 juta sebulan,” jabarnya.

Rencana Pengembangan

Melihat dari semakin banyaknya peminat yang memesan sejumlah masakan di Warung Salera, pihak pengelola maupun Bumdes merencanakan pengembangan menarik. Diantaranya adalah spot pemandian umum.

“Kalau rencana sih pemandian umum ada mas, sebentar lagi kan ada dermaga pelabuhan di Dungkek,” lanjut Rasyidi.

Untuk itu pihaknya berharap ada uluran tangan dari pemerintah untuk mengembangkan usaha itu. Karena sejauh ini, masih belum ada sentuhan sedikit pun dari berbagai pihak.

“Intinya butuh support lah mas, karena ini untuk mengembangkan Desa juga,” harap Rasyidi. [kid/faid]

Loading...

Komentar

BERITA TERBARU