Si Manis ‘Berongko’, Makanan Khas Warga Masalembu yang Melambangkan Kejujuran

SUMENEP, (News Indonesia) -- Berongko merupakan salah satu makanan khas Bugis yang ada di kepulauan Sumenep, Madura, Jawa Timur, tepatnya di pulau Masalembu. Makanan ini juga disebut sebagai pelambang kejujuran.

SUMENEP, (News Indonesia) — Berongko merupakan salah satu makanan khas Bugis yang ada di kepulauan Sumenep, Madura, Jawa Timur, tepatnya di pulau Masalembu. Makanan ini juga disebut sebagai pelambang kejujuran.

Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero, yang masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Yunan. Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan.

Masyarakat Bugis juga memiliki makanan dan minuman tradisional yang terus terpelihara hingga kini. Ada banyak makanan dan minuman tradisional yang dimiliki orang Bugis. Salah satunya adalah berongko.

Ada dua ragam jenis berongko, yang sudah dikembangkan dan keduanya sama sama memiliki citarasa yang khas dan bersaing.

“Sebenarnya berongko itu beragam, jadi ada yang berongko pisang dan berongko beras,” tutur Enung pada media News Indonesia, Jum’at (24/04/2020).

Berongko yang pertamakali menjadi makanan khas bugis yaitu berongko pisang yang warnanya kuning keemasan, setelah berongko pisang ditetapkan menjadi khas kue bugis, lalu muncullah berongko beras berwarna hijau sejak pertengahan tahun 1995 yang sudah teruji kelezatannya.

Kue Barongko pisang terbuat dari campuran pisang kepok, santan, telur, gula, dan dibungkus oleh daun pisang, lalu dikukus. Sedangkan berongko beras menggunakan bahan dasar tepung beras yang juga dilengkapi dengan vanili sebagai aroma pengharum.

Enung yang merupakan salah satu warga Masalembu dari suku bugis itu mengatakan bahwa berongko tersebut biasanya hanya disajikan saat acara adat, seperti dalam acara sunatan, aqiqah, pernikahan, dan syukuran.

“Kudapan berongko itu biasa dihidangkan cuma pada acara adat, sunatan, akikah, pernikahan, dan syukuran tok,” ucapnya dengan logat Bugis.

Konon, makanan ini selalu dihidangkan untuk Raja-raja Bugis. Pada zaman dahulu barongko pisang tergolong makanan mewah dan hanya khusus disajikan bagi kaum bangsawan dari kerajaan-kerajaan Bugis. Umumnya raja-raja Bugis menikmati pangan yang berbahan pokok pisang ini sebagai makanan penutup.

Di luar acara-acara istimewa tadi, ada satu momen dimana berongko selalu tersaji di rumah-rumah orang Bugis, yaitu saat bulan suci ramadhan tiba.

Meski terkesan sederhana dan mudah, namun kue ini jarang ditemui. Pasalnya, di daerah asalnya pembuatan berongko tidak dilakukan dengan sembarangan. Berongko harus dibuat oleh orang yang sudah berpengalaman, agar rasa aslinya tetap terjaga.

“Pembuatan berongko tidak sembarang dilakukan yak, tapi harus yang berpengalaman biar rasa aslinya itu terjaga, kalaupun ada yang membuat tapi tak berpengalaman rasanya itu akan berbeda,” sambung Marek, yang sudah bertahun tahun menjalani usaha catering berongko tersebut.

Selain rasanya yang manis, lembut dan dingin, barongko juga dianggap aman untuk pencernaan dan menambah stamina. Karenanya tepat bila disajikan sebagai makanan pembuka setelah menjalankan puasa Ramadan sehari penuh.

Rasa yang manis, teksturnya yang lembut dan juicy membuat siapapun yang mencicipi kue ini sulit untuk beranjak dan melupakan begitu saja cita rasa kelezatan yang khas dari berongko.

Kelebihan dari kue ini juga terasa sejuk dilidah saat menyantapnya. Padahal tidak menggunakan campuran es batu atau unsur pendingin. Jadi, semua yang tersaji dalam bungkusan kue yang unik ini rasanya sangat alami.

Kue berongko yang kerapkali disebut ‘Si Manis’ ternyata mempunyai nilai filosofis yang sangat tinggi. Menurut sebagian besar masyarakat Bugis, berongko pisang tidak hanya dikerjakan dengan tangan-tangan terampil dan berpengalaman tetapi juga dibuat dengan hati. Hal ini sejalan dengan nilai filosofi tinggi yang terkandung di dalamnya.

“Membuat adonan kue berongko itu harus dengan hati,” imbuhnya.

Sebagian besar masyarakat Bugis menyebut berongko sebagai kue kejujuran. Karena Bahan utama yang terbuat dari pisang dan kemudian dibungkus kembali dengan tanaman yang sama dengan bahan dasarnya (daung pisang) merepresentasikan kejujuran makna. [ifa/kid]

Comment