oleh

Ketupat adalah Simbol Ukhuwah

Hari ketujuh lebaran ‘Idul Fitri merupakan sebuah momen lanjutan dari nuansa kegembiraan. Sebagai wujud syukur atas kemenangan di Hari Raya’Idul Fitri, pada hari ketujuh ini bagi sebagian kalangan dirayakan sebagai lebaran ketupat. Yaitu momen ukhuwah dalam menjalin solidaritas dan soliditas antar sesama, sesuai dengan simbolnya yaitu ketupat.

Secara nilai filosofis, ketupat merupakan simbol ukhuwah, dimana dua lembar janur atau lebih dianyam dengan rapi dan indah hingga akhirnya tampak indah dan penuh dengan makna dan kaya akan manfaat. Maka memaknai ketupat tentu tidak lepas dari simbol yang dimilikinya. Sehingga implentasi dari perayaan tersebut harus mencerminkan makna yang tersirat di dalamnya, yaitu ukhuwah atau persaudaraan.

Ukhuwah merupakan bagian dari ajaran agama yang harus dan terus diamalkan dan dikampanyekan, sebagai wujud implementatif dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Karena dengan mempererat ukhuwah akan terwujud nuansa kehidupan yang indah. Hal ini sebagaimana telah Allah instrukasikan dalam firman-Nya :

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Imrân :103)

Dari ayat di atas, dapat kita renungkan, betapa pentingnya jalinan ukhuwah antar sesama dalam kehidupan kita. Dan pada momen yang Fitri ini merupakan bagian dari peluang momental dalam mengamalkannya. Tentu tidak hanya terbatas pada momen ini, bisa dilanjutkan dan dirawat serta dijaga pada momen-momen selanjutnya.

Kekuatan ukhuwah diibaratkan oleh Rasulullah SAW. dengan sebuah bangunan, sebagaimana dalam sabdanya : “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. (Muttafaq ‘Alaihi).

Dan diantara sikap ukhuwah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. adalah sebagaimana pesan yang beliau sampaikan dalam haditsnya :

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh tidak menzaliminya, merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini (Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali). Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain, haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. (HR. Muslim).

Maka terus menjalin ukhuwah, menjaga solidaritas dan soliditas di dalamnya merupakan tugas setiap manusia dalam menjalani roda hidup dan kehidupannya.

Semoga pada momen yang Fitri ini kita dapat mempekokoh jalinan ukhuwah diantara kita. Dengan harapan semoga nuansa kedamaian dalam kehidupan kita tercipta.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal ‘aidin wal fa izin. Kullu ‘amin wa antum bikhair. Amin. Wallahu a’lam

*Penulis adalah penggiat literasi asal Kadur Pamekasan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA TERBARU