Cerita Dosen Muda Soal ‘Penyiksaan’ Guru dalam Mendidik

Abd Ghani, Dosen Muda (Saat ini menjabat Wakil Ketua LAKPESDAM PCNU Pamekasan)

Penulis : Abd Ghani : Dosen Muda (Saat ini menjabat Wakil Ketua LAKPESDAM PCNU Pamekasan)

 

Tiba-tiba mata berkunang, pandangan mulai buram, dan kepala pusing dengan tubuh menggelinjang. Itulah kondisi saya bersama sebagian teman MI yang tidak menghafalkan sifat-sifat wajib bagi Allah pada pelajaran tauhid. Dengan punuh cinta, melalui metode pembelajarannya, terpaksa saya harus dijemur dibawah terik matahari oleh Pak Omar.

Namun apa yang dilakukan Pak Omar, sama sekali tidak menanamkan perasaan dendam apalagi tersinggung dalam hati. Bagi saya, diperlakukan seperti ini sudah biasa. Mungkin karena dari saking bandelnya saya, yang memilih bermain ketimbang menghafalkan. Saya tetap hormat kepada beliau. Dan sampai saat ini, jika bertemu,- saya selalu membungkukkan badan.

Saya adalah murid yang bisa dikatakan paling susah menghafal, mungkin itulah yang menjadikan tidak pernah rangking kelas setelah ujian. Sebab pintar dan cerdas itu memang berbeda; “pintar harus pandai menjawab pertanyaan, sedangkan cerdas adalah pandai membuat pertanyaan”. Bagaimana mungkin saya menjadi murid yang pandai menjawab pertanyaan dalam sederet soal yang memusingkan, sementara satu-satunya murid yang paling susah menghafal itu adalah saya.

Kemudian saat duduk di bangku MTs, nyaris setiap minggu penggaris kayu atau pegangan sapu menjadi langganan mata kaki. Pak Budi, pengampu pelajaran nahwu saat itu, kembali menerapkan metode hafalan. Dan saya adalah murid yang selalu menjadi bahan tertawaan, karena setiap kali hafalan, kaki selalu menghitam, bekas pukulan Pak Budi yang budiman.

Suatu ketika, setiba dirumah. Orang tua bertanya. Mengapa kakinya hitam, saya jawab dengan tenang; tadi, sepulang dari sekolah kepeleset dan membentur batu. Tentu saya harus berkata begitu, sebab jika jujur, bukannya dibela dan melaporkan Pak Budi ke polisi, melainkan ditambah dengan pukulan yang lebih dahsyat lagi.

Namun saya pun tidak pernah dendam kepada Bapak Budi, bahkan saat masih belum beristri, jika tiba waktu lebaran, saya selalu silaturahim ke rumah beliau, meski hanya untuk sekedar mencium tangannya. Dan sampai sekarang, saya masih hormat kepadanya.

Setelah lulus dari MTs, saya melanjutkan ke MA di Probolinggo. Jauh dari orang tua, tak ada yang membela jika terjadi apa-apa.

Bayangan saya, jika sudah MA pasti tidak akan ada Guru yang akan mendidik seperti metode sebelumnya. Ternyata salah, yang terjadi justru sebaliknya, disana lebih sadis dan menyakitkan.

Sudah 13 tahun saya tinggalkan MA, masih hangat dalam ingatan, lantaran saya terlambat masuk kelas di jam pelajaran, Pak Nasir mencubit dada hingga merah kecoklatan.

Sebelum bel masuk berbunyi, Pak Nasir memang selalu siaga berdiri didepan kelas. Dengan muka yang berlagak garang, meski sesungguhnya tak bisa menyembunyikan rasa sayang dan cinta kepada anak didiknya.

Pernah juga suatu hari, saya belum sempat memotong godek. Beliau memanggil saya dengan suara khasnya yang menggetarkan. Ghaniiiii, kesini!!!. “Wah, dada mana lagi yang akan saya haturkan”. Gumam saya dalam diam.

Tetiba saya disuruh buka peci. Saya pun membatin, berusaha menghibur diri. “Alah cuma dicukur, gak bakalan sakit”. Eeit, sepontan beliau menarik dan memegang kepala, lalu mencabuti godek saya dengan sebegitu kerasnya. Anda bisa bayangkan, betapa sakitnya diperlakukan begini.

Dan yang dilakukan Pak Nasir, lagi-lagi tidak menyisakan rasa benci dalam hati. Sampai saat ini, saya masih selalu mendoakan beliau, bahkan selalu berusaha mencari kabarnya dari teman-teman.

Alhamdulillah, saat saya berkunjung ke pondok, Allah menyempatkan untuk merengkuh tangannya, dan mencium sembari membayangkan; tangan inilah yang dulu mendidik saya penuh cinta.

Yah, dulu. Ketika saya dipukul dan disakiti oleh Guru, Ayah-Ibu datang membawa beras serta sedikit uang kertas hanya untuk diberikan sebagai wujud terimakasihnya telah memukul saya. Orang tua masih percaya; bahwa pendidikan yang paling mendidik adalah ketika melihat anaknya nakal, Guru tidak segan menegurnya dengan ‘tamparan’.

Hingga pada akhirnya saya tidak mengerti, mengapa sekarang guru sangat direndahkan, tidak lagi dihormati, bahkan harus dipukul sampai mati?. Mengapa?, dan mengapa?.

__________
Abd Ghani,
Muridmu yang selalu nakal, hingga hari ini. Semoga kalian selalu dalam lindunganNya, para Guru yang budiman. Dari kejauhan, salam sungkem dan takdzim, untukmu semua Guru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here