Momentum Tahun Baru hijriyah, Ajang Silaturrahmi Untuk  Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniah dan Ukhuwah Insaniyah

Dhafir Munawar Sadat

Oleh : Dhafir Munawar Sadat
Alumni Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura

Kemenangan ummat Islam adalah kemenangan bersama rakyat Indonesia dengan datangnya tahun baru 1440 Hijriyah 1 Muharram bertepatan  pada hari selasa tanggal 11 September 2018 Masehi, Momentum besar sebenarnya bagi elite bangsa ini untuk mencari kesempatan dalam rangka membangun image positif dimata rakyat, jangan sampai meninggalkan kesempatan emas ini, justru disinilah tempatnya, sekaranglah waktunya. Begitu juga dengan umat islam sendiri sudah saatnya berbenah diri untuk lebih focus kepada perubahan menuju yang lebih baik dalam arti hijrah itu sendiri yaitu berubah dari tidak baik ke yang baik dan yang lebih baik, seperti pepatah,” hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.

Ada hal yang sangat urgent dari sekedar merayakan datangnya tahun baru hijriyah itu, yaitu rasa memiliki ukhuwah atau rasa persaudaraan sesama muslim yang ikhlas dan semua ummat beragama yang ada di Indonesia dan dunia pada umumnya dengan menunjukkan sikap seperti ini dengan sendirinya islam akan berkembang, dan disegani, dengan izin Allah yang maha kuasa islam akan menjadi panutan akan menjadi rujukan agama-agama lain di dunia.

Ada beberapa alasan kenapa harus memperdulikan orang lain walau beda keyakinan, ras, budaya, bahasa, suku dan perbedaan lainnya yaitu:

Pertama : Manusia tidak hidup sendiri (Makhluk Sosial), selalu membutuhkan orang lain

Kedua : Manusia Makhluk perasa, disamping manusia memiliki perasaan rendah (yang brhubungan dengan unsur-unsur biologis atau jasmaniyah) seperti perasaan sakit, seksuil dan lain-lain, manusia juga dibekali dengan perasaan tinggi /luhur (yang berhubungan denga unsur-unsur rohaniah manusia seperti : Perasaan diri, social, intelek, estetis, ethis dan perasaan religius  itu perasaan yang berhungan dengan diri sndiri. Ada juga perasaan yang berhubungan dengan orang lain seperti ; Simpati, Empati Antipati dan sentiment (Idris Djauhari)

Ketiga : Manusia makhluk dinamis, inovatif dan solutif

Manusia makhluk komplit, dari itu rugi kalau manusia merugi dalam hidupnya artinya kalau hidupnya disia-siakan hanya untuk kepentingan sesaat, makanya ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam mementum tahun baru hijriyah ini, diantaranya :

Menjalin talisilaturrahmi, saling memaaftkan, saling tegur sapa, rajin solat berjamaah, menebar senyum, salam dan sapa, serta membuang jauh-jauh perbedaan demi kebersaamaan menuju kedamain dan ketenangan.

Momen special inilah sesungguhnya yang tidak boleh dilewatkan. Ending dari itu semua adalah menuju Indonesia yang bermartabat, dihargai kawan disegani lawan.

Sekarang ini kalau mencermati secara teliti, makna ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah maupun ukhuwah insaniya itu sendiri, sudah terabaikan ternodai dengan kepentingan sesaat, mereka lebih memilih gemerlap dan pesona duniawi yang tidak bisa ditolak (hedonis), sehingga timbul saling hujat, menjelekkan saling menjatuhkan dan merasa paling benar sendiri, makna hijrah sudah melenceng dari khitthahnya, penuh dengan bumbu persaingan bisnis, kepentingan politik, suku dan kepentingan lainnya, menganggap lebih penting dari pada kepentingan ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah insaniyah yang hanya membuang-buang waktu dan sangat merugikan. Sungguh sangat betul firman Allah, “Sesungguhnya manusia sangat sombong dan sangat melampaui batas”,(QS,AI-‘Alaq-6)

Semoga kita dijauhi dari  itu semua dan kita menuju dari yang baik ke yang lebih baik, amin…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here